Cerpen | Perjuangan Romantis Part 4



Malam ini nampak terlihat cerah, bintang-bintang diatas awan terlihat cantik, dan bulan terlihat bundar sempurna. Angin malam yang sepoy-sepoy, yang menambah suasana semakin nyaman. Faiza yang berada ditaman depan, sambil ditemani susu coklat kesukaannya, sangat menikmati suasana seperti ini. Sudah lama dia tidak menikmatmati suasana seperti dan baru kali ini dia menikmati malam yang begitu inda Kih.

Faiza begitu menikmatinya, dengan menghirup aroma susu coklat yang masih panas, membuat Faiza mengingat sesuatu. Mengingat masa lalunya, masa dimana dia begitu bahagia. Tak terasa tetesan air matanya mulai membasahi pipinya, peristiwa itu membuat dirinya terjebak dalam kubangan masa lalu. Kubangan yang mungkin bisa membuat pertahanan seorang Faiza roboh. Disela-sela ia menangis mulutnya menggumamkan sesuatu.
" Aku rindu...merindukan dirimu, merindukan suasan itu, merindukan semuanya yang berhubungan denganmu, Ya Allah tak bisakan semua terulang kembali." Faiza semakin terisak sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.

  • " Faiza....." Sapa sang ibu yang berada didepan pintu.
    " Ibu..." Faiza mengangkat wajahnya, sambil melihat ibunya yang berjalan menghampirinya.
    " Kenapa kamu menangis lagi....?" Tanya sang ibu yang sudah duduk disebelah Faiza.
    " Aku sangat merindukannya Bu." Jawab Faiza sambil menangis.
    " Sayang ikhlaskan dia, jika kamu mencintai dan menyayanginya." Jawab sang Ibu sambil memeluk Faiza. Faiza hanya menganggukkan kepalanya.


Faiza yang masih menangis dalam dekapan sang ibu, tiba-tiba berhenti, karena didepan pagar rumahnya ada seseorang yang datang. Iya itu Abyan, dia datang sambil membawa beberapa berkas dan makanan ringan untuk keluarga calonnya itu. Karena papanya yang masih berada diluar kota, mangkanya Abyan yang mengantar berkas penting itu kepada pak Wahono. Sambil berenang minum air, itulah peribahasa yang tepat untuk Abyan saat ini. Sambil mengantar berkas tak apalah untuk mendekati calonnya itu, itulah yang ada difikiran Abiyan saat ini.

Faiza yang tahu langsung menghapus air matanya dan membukakan pintu gerbangnya. Didepan gerbang melihatkan sosok Abiyan yang bersandar diatas sepeda motornya. Setelah tahu yang membukakan pintu gerbangnya sosok calonnya, Abiyan langsung memasang wajah dan pembawaan yang cool. Biar terkesan wow gitu didepan calonnya ini.
 
  • " Assallamualikum." Sapa Abiyan.
    " Waallaikumsalam, ada apa...?" Tanya Faiza to the point.
    (Buset nih cewek langsung keintinya kalo nanya.) Gerutu Abiyan dalam hati.
    " Ini gua mau nganterin berkas untuk pak Wahono dari papa." Jawab Abiyan.
    " Siapa sayang....?" Tanya sang ibu sambil berjalan menuju mereka.
    " Eh ada nak Abiy, kenapa nggak disuruh masuk dulu, ayo masuk nak." Lanjut Ibu Faiza.
    " Iya tante, terima kasih." Jawab Abiyan.


Mereka semua masuk kedalam ruang tamu, kecuali Faiza yang masih engan untuk masuk, dia lebih memilih duduk ditaman sambil menikmati susu coklatnya itu. Bukannya dia tidak menghargai tamu, tapi itu tamunya Ayahnya, jadi biarkan orang tuanya yang menyambut, lagi pula Faiza juga butuh waktu sebentar untuk menenangkan dirinya. Abiyan yang masih menunggu pak Wahono keluar, dia memberikan bingkisan kepada ibunya Faiza.

  • " Ini tante ada bingkisan kecil."
    " Wahh, kenapa repot-repot nak." Jawab Ibu Faiza.
    " Nggak repot kok tante."
    " Makasih ya nak."
    " Iya sama-sama tante." Jawab Abyan sambil tersenyum.


Pak Wahono baru keluar dari tampat kerjanya, masih memakai pakaian santai ala rumah. Dia melihat ada tamu yang tak asing lagi, iya itu Abyan anak Wiranto rekan bisnianya. Pak Wahono menghampiri Abiyan dan Abyan yang tahu langsung berdiri mencium punggung tangan Pak Wiranto.

  • " Duduklah nak." Seraya duduk didepan Abiyan.
    " Iya, terima kasih Om." Jawab Abiyan.
    " Ada keperluan apa nak, hingga malam-malam begini kesini..?" Tanya Pak Wahono.
    " Ini Om dari papa, katanya berkas buat besok pagi." Sambil menyodorkan map kepada pak Wahono.
    " Oh yaya, makasih nak, seharusnya tak perlu repot-repot seperti ini."
    " Nggak repot Om dan kata papa saya beliau minta maaf karena tidak bisa memberi berkas ini langsung sama Om." Jawab Abiyan.
    " Bilang sama papamu, nggak papa dan jangan merasa tidak enak seperti ini, kita kan teman jadi enjoy is my friend." 
    " Iya Om. Oh ya boleh saya menemui Faiza sekarang." Tanya Abiyan sambil dag dig dug.
    " Hahaaa kau ini memang duplikatnya Wiranto, temui dia, sekarang masih ada taman depan." Jawab pak Wahono.
    " Terima kasih Om." Seraya meninggalkan pak Wahono dan menghampiri Faiza.


Abiyan melihat Faiza yang nampaknya sedang melamun, oh itu bukan melamun, melainkan dia lagi bersedih. Tapi, siapa yang membuat calonnya bersedih seperti ini. (Berani sekali orang ini, awas saja sampai ketemi, pasti habis ntuh orang.) Gerutu Abyan dalam hait. Dengan rilex Abyan menghampiri dan duduk disebelah Faiza. Faiza merasa ada orang disampingnya langsung menoleh kearah orang itu.

  • " Ada apa....?" Tanya Faiza dingin.
    (Ettdah dingin banget nih anak, pengen banget jadi matahari biar dia meleleh.) Gerutu Abiyan dalam hati.
    " Gua cuman mau nemenin loe." Jawab Abyan.
    Seketika Faiza melirik Abiyan dan Abiyan hanya tersenyum. Setelah itu Faiza menengguk coklat panasnya.
    " Tapi maaf, untuk saat ini aku nggak lagi butuh teman, maaf ya aku harus kedalam sekarang." Jawab Fiza dan seraya meninggalkan Abiyan.
    " Tunggu." Jawab Abiyan sambil memegan pergelangan tangan Faiza.
    " Ada apa lagi, urusanmu belum selesai dengan orang tuaku....?" Tanya Faiza dingin.
    " Urusanku belum selesai denganmu." Jawab Abiyan yang masih memegang pergelangan tangan Faiza.
    " Urusan apa, sepertinya aku tak memiliki urusan denganmu." Jawab Faiza ketus.
    " Ada, urusan mengenai seseorang yang berani membuatmu menangis seperti ini." 
    " Itu bukan urusanmu dan jangan pernah mencampuri urusanku lagi." Jawab Faiza ketus seraya menghempaskan tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Abiyan.
    " Ini sudah larut malam, nggak baik bertamu dijam seperti ini, dan pintu gerbang masih terbuka lebar untukmu." Lanjut Faiza serasa pergi meninggalkan Abiyan.


Kedua orang tua Faiza yang tahu kejadian tadi, langsung menghampiri Abiyan.

  • " Maafkan tingkah laku anak kami ya nak Biyan."
    " Nggak papa kok tan." Jawab Abiyan sambil tersenyum.
    " Saya pamit dulu, assallamualaikum." Lanjut Abiyan.
    " Waallaikumsalam." Jawab kedua orang tua Faiza.


Abiyan tidak menyangka, kalau dia akan mendapatkan perilaku dari calonnya seperti ini. Apa yang salah, dia hanya berniat untuk menghiburnya agar tidak bersedih lagi. Ada apa dengan calonnya ini, dia begitu dingin, acuh, bahkan menganggap kehadirannya pun tidak ada. Tapi kenapa Abiyan malah jatuh hati pada Faiza, magnet apa yang dimiliki Faiza. Yaaah itulah Cinta yang tak mempunyai Alasan.

Didalam kamar Faiza masih memegang bingkai foto, yang berisi dua foto sejoli yang tersenyum bahagia. Faiza memandangi lekat foto itu sambil meneteskan air mata. Entah mengapa hari ini dia begitu merindukan suasana masa lalunya, merindukan senyuman itu, dan merindukan sosok yang ada didalam foto itu.

  • " Apa kamu nggak bisa kembali lagi kesini, kedalam dekapanku, kau begitu jauh sekarang, tak bisakah kau mendekat, barang sebentar saja. Tak bisakah engkau datang membawa senyuman itu kembali, membawa kenangan manis itu kembali. Dan apa kau bisa mendengarku sekarang haaaaa." Tangisan Faiza semakin menjadi, teriakan orang tuanya pun tak ia hiraukan. Sampai Faiza tertidur sambil mendekap foto itu dengan linangan air mata.


Penulis Cerpen : Lia

0 Response to "Cerpen | Perjuangan Romantis Part 4"

Posting Komentar